Perebutan Tahta Pemimpin di Dunia Islam Zaman Pemerintahan Khilafah Abbasiyyah, Tahun 799 – 800 Masehi | Pada tahun 798 M Khalifah Al-Mahdi bin Al-Mansur wafat meninggalkan dua anak laki-laki (Musa Al-Hadi & Harun Al-Rasyid) dari budak wanitanya, Khaizuran, Budak dari Yaman. Jauh hari sebelum Al-Mahdi wafat, ia telah berjanji kelak akan menobatkan putera tertuanya, Musa Al-Hadi untuk tampil sebagai Khalifah Amirul Mukminin. Tapi di saat yang sama, ia juga menginginkan putera keduanya, Harun Al-rasyid untuk tampil terlebih dahulu menjadi khalifah amirul mukminin, mendahului Musa Al-Hadi.
Memastikan satu diantara kedua putera mahkota ini amat sangat sulit bagi Al-Mahdi. Bertahun-tahun ia mencari solusi melalui aneka upaya dari menemui juru nujum, mendatangkan tokoh spiritual muslim sampai mengundang ahli siasat politik fiqih sudah dilakukannya semua. Hasilnya tetap saja, dua puteranya sama-sama layaknya. Ritus suci umroh & haji berkali-kali dilakukannya, berdoa di depan ka’bah memohon petunjuk Allah selaku Tuhannya Pemerintahan islam juga serius dilaksanakannya. Namun hasilnya tetap saja tidak memberikan keputusan final yang mana diantara kedua puteranya itu yang musti dinobatkan menjadi Khalifah.
Di bulan Muharam tahun 799, Pada usia 43 tahun khalifah Al-Mahdi wafat. Beberapa berita mengabarkan ia wafat karena serangan demam atau diracun budaknya. Ia di makamkan di Sabdzan. Tahta di istana Baghdad yang kosong segera diambil alih oleh Harun Al-Rasyid bin Al-Mahdi, mumpung kakak kandungnya yakni Musa al-Hadi masih sibuk ekspedisi militer di Jurjan, daerah yang lumayan jauh dari Baghdad. Harun Al-Rasyid beramai-ramai dinobatkan sebagai khalifah amirul mukminin oleh pendukungnya, diantaranya didukung oleh Rabi’ al-Hajib, Seorang tokoh senior Abbasid sejak masa Al-Manshur, kakek kedua putera Mahkota. Harun Al-Rasyid juga dielu-elukan Keluarga Barmak, Keluarga Saudagar kaya raya golongan Syi’i, dan juga didukung penuh suka cita oleh Khaizuran, ibu kandung kedua putera Mahkota yang lebih mencintai Harun Al-Rasyid daripada Musa Al-Hadi.
Mendengar berita kematian ayahnya, Musa Al-Hadi yang sedang ekspedisi militer di Jurjan segera berderap menuju istana Baghdad beserta pasukan militernya, secepat mungkin mengumumkan pada masyarakat muslim perihal kapasitasnya sebagai penerus tahta pemimpin dan memastikan bahwa wakil Allah di dunia islam masih nyata dan legitimate. Langkah tegas nan pasti ini sangat penting sebab anasir-anasir pemberontakan di arus bawah sangat kuat, kelompok khawarij, kelompok syiah, kelompok mawali misalnya nyata menjadi ancaman serius bagi kekuasaan dan tahta khalifah. Celaka!
Sesampainya ia di istana Baghdad, adik kandungnya ternyata sudah terlebih dahulu di daulat menjadi khalifah amirul mukminin. tanpa ragu dan penuh murka, ia memburu Harun al-rasyid untuk disingkirkan dan direbut status kekhalifahannya. Sayangnya, Harun Al-Rasyid sudah terlanjur kabur dari istana. Kini sasaran amuknya beralih kepada pihak-pihak yang mendukung Harun al-rasyid naik tahta. Rabi’ al-Hajib tokoh senior Abbasid dipenjara kemudian dibunuhnya. Al-Barmaki, Tokoh keluarga Barmak dari syiah ditangkap dan dipenjara yang penuh siksa. Juga Khaizuran, ibu kandungnya sendiri juga ditangkap dan dikurung dalam penjara Baghdad, menjadi tahanan politik dibawah ancaman penggal kepala jika mencoba melarikan diri. Hanya Harun al-Rasyid saja yang lolos dari sergapan ksatria perang ini.
Semua Petinggi Pemerintahan Abbasid dikumpulkan, disumpah setia (baiat) untuk menahbiskan kapasitasnya sebagai Khalifah Amirul mukminin. Semua gubernur di berbagai daerah wilayah kekuasaan Abbasid dikirim Surat Penahbisan ini. Beberapa diantaranya menolak dan hasilnya adalah penjara dan atau kematian.
Kegaduhan pusat pemerintahan ini adalah kesempatan emas bagi para keturunan Nabi Muhammad untuk naik tahta tampil sebagai khalifah Amirul mukminin yang telah lama hilang dari genggamannya. Husein Bin Ali bin hasan bin hasan bin hasan bin Ali bin abi thalib misalnya, Seorang pria dari kalangan Ahlul Bait ini segera menobatkan diri sebagai khalifah amirul mukminin di Mekah. Ia dibaiat oleh para ulama, fuqoha dan masyarakat muslim hijaz di depan kabah. Satu penobatan yang khas di dunia islam, sangat mistis, liturgis, sakral dan legal. Ia kemudian menyusun pusat kekuatan pemerintahannya di Masjid Nabawi, Madinah meniru jejak kakek buyutnya dahulu kala membangun dan membuat tatanan ilahi.
Sekali lagi!
Di dunia islam tidak mengenal dua pemimpin disaat yang bersamaan. Khalifah amirul mukminin itu harus tunggal. Tak boleh ada pemimpin yang setara ataupun tandingan.
Penahbisan di Hijaz ini tentu saja menyebabkan Istana Baghdad menjadi panas dan sudah bisa diduga, Khalifah Musa al-Hadi segera bergerak cepat menumpas pemerintahannya Husein bin ali : 30 ribu prajurit Baghdad berderap menggempur Madinah, Husein bin Ali tewas dipenggal beserta semua pendukung-pendukungnya yang menolak tunduk pada Baghdad.
Tindakan penumpasan Husein bin Ali di Madinah ini adalah gema peringatan bagi siapapun yang mencoba-coba berani menolak atau tidak takluk pada Khalifah Musa Al-Hadi. Dan terbukti efektif, seluruh wilayah muslim sepi dari upaya pemberontakan. Akan tetapi bagaimana dengan Sang adik, Si Putera Mahkota lainnya, yakni Si Harun Al-Rasyid itu? kemanakah perginya? Apakah ia tidak tergerak untuk mengakhiri Rezim diktator ini? apakah ia cukup punya nyali bertarung dengan kakaknya yang telah sejak lama diketahuinya adalah seorang pendekar ksatria?
Skandal dimulai!
Musa Al-Hadi hanya bisa disingkirkan dengan cara halus, bukan dengan jalan bertarung secara militer. adalah Khaizuran, ibu kandungnya Musa al-hadi & juga ibu kandungnya Harun al-rasyid yang berada di dalam penjara istana Baghdad menyusun siasat : memastikan Budak wanitanya Musa Al-Hadi bercinta dengan Khalifah sampai lelah kemudian menaburkan bubuk racun pada menu kejantanannya Sang Amirul mukminin Musa Al-hadi.
Malam itu, bulan muharam, pada usia 30 Tahun, Khalifah Musa al-hadi wafat, masa pemerintahannya hanya 1 tahun dan esoknya, pasca pemakamannya, Adiknya Yakni Harun Al-Rasyid naik Tahta dengan mulus sebagai Khalifah Amirul mukminin, pemimpin tertinggi umat islam seluruh dunia.
Sumber :
Tarikh Ibnu Katsir, Al-bidayah wan nihayah
Simak juga video kami di channel Waskita Jawi