Sejarah Pecel | Nasi hangat yang di atasnya berbagai macam sayuran–sebagian besar berupa daun-daunan seperti daun bayam, kangkung, kenikir, daun pepaya, melinjo (godhong so), kecipir, bunga turi, dan lain sebagainya–yang direbus, siraman sambal kacang dan taburan irisan sayur mentah (trancam), seperti irisan mentimun, tauge-kecambah (capar), irisan daun jeruk dan daun kemangi, serta lauk pelengkap berupa aneka gorengan, seperti tempe, tahu, ‘peyek’ (krupuk khas Jawa). Pecel. Sebuah kuliner yang sudah akrab di lidah masyarakat Jawa, namun jarang diketahui bagaimana rekam jejaknya.
Makanan ini pertama kali disebut dalam Kakawin Ramayana, yang ditulis pada abad IX–era Mataram Kuno dibawah raja Rakai Watukura Dyah Balitung (898–930 M)–diceritakan bahwa berbagai jenis makanan termasuk pecel dihidangkan kepada para rakyat yang telah membantu memenangkan perang:
“ya rasāna wanèh nya baniṅ nya lawar-lawaranya gulay-gulayanya lêmêṅ-lêmêṅanya pêṅêt-pêṅêtanya hasêm-hasêmanya takih-takihanya sarad-saradanya kulub-kulubanya bênêm-bênêmanya taman sipi riṅ mahêm mukêt ulam iṅ rêcehan ta pêcêl-pêcêlan śuci tar pacalan cêcêp iṅ jruk asin nasi tāsi saménaka” (Sarggah ke-26, bait ke-25).
Terjemahannya: “Ambillah juga hidangan daging kura-lura, semua jenis lawar (hidangan yang disiapkan dari darah), semua jenis gulai (sup daging), semua jenis hidangan yang disiapkan dari bambu, semua jenis pêṅêt, semua jenis hidangan asam, semua jenis hidangan di wadah daun kelapa, semua jenis sarad, kulub (sayuran kukus), semua jenis hidangan yang disiapkan dalam bambu panas, daging cincang yang dicampur dengan sayuran, pêcêl (salad sayuran) murni. Letakkan perasan jeruk (saat memakannya). Mintalah nasi sepuasnya.”
Pada abad X, Prasasti Siman (865 S/943 M) dari Kediri–masa rāja rake hino pu siṇḍok śrī īṣānawikrama dharmmottunggadewa–menyebutkan jenis makanan yang terbuat dari sayuran daun yang direbus (kukus?) dan diolah secara khusus dengan bumbu rempah (pangapangān rumbarumbaḥ kūluban tetis).
Sedangkan dalam Prasasti Banjarnegara (lempeng 1b)–residen Banyumas–yang belum diketahui angka tahunnya menyebutkan adanya sebuah hidangan yang membuat semua orang ramai mengambilnya (lalapan?): “laki bini, mamangan manginum, majnu, maskar, mangigal, mālapalapan” (laki-laki wanita makan, minum, meminum arak (jnu-skar), menari, menyambar lalapan).
Sementara itu, dalam prasasti Banjarnegara (Gambar 1b) – penduduk Banyumas – yang tahunnya tidak diketahui, disebutkan sebuah masakan yang membuat semua orang sibuk menyantapnya (lalapan?):
“men bini, Mamangan manginum, majnu, Maskar, mangigal, mālapalapan” (pria dan wanita makan, minum arak (jnu-skar), menari, memetik sayur segar).
Pada abad XVI, dalam Babad Tanah Jawi edisi Meinsma diceritakan bahwa Ki Ageng Karanglo dari Taji (sekitar Klaten) menjamu Ki Ageng Pamanahan–dengan beberapa makanan, seperti nasi dan pecel, ayam dan sayur menir–saat akan membuka lahan di Mataram (Kacariyos Ki Agêng ing Karanglo, sampun sumêrêp yèn Ki Pamanahan boyong dhatêng ing Matawis. Ki Agêng Karanglo sumêja asêsêgah sêkul sarta pêcêl pitik jangan mênir).
Sedangkan Serat Centhini, “Sang Ensiklopedia Jawa” yang ditulis pada abad XVIII juga mencatat berbagai jenis makanan, seperti nasi pulen, ayam dengan bunga pandan (panggang pudhak), sayur menir, pecel ayam (dhere), dendeng rusa, lalapan seledri kecambah dan kemangi (radyan lawan ari sru kapengin / bukti sêkul pulên panggang pudhak / jangan mênir pêcêl dhere / dhèndhèng manjangan gêpuk / lalap sladri cambah kêmangi).
Sedangkan Serat Centhini, “Ensiklopedia Jawa” yang ditulis pada abad ke-18, juga mencatat berbagai makanan, seperti lontong, ayam kembang pandan (pudhak bakar), sayur menir, pecel ayam (dhere), daging rusa kering, seledri. Kecambah dan kemangi (kebalikan dari yang Anda inginkan / bukti bahwa Anda akan memanggang paha / jangan khawatir / Anda akan lapar / Anda lapar akan kecambah).
Pecel dengan berbagai macam sayurannya, selain menyehatkan ternyata juga memiliki nilai sejarahnya tersendiri namun sampai sekarang belum ada sumber sejarah yang secara tegas siapa penemu makanan pecel ini.
Sumber:
- J.L.A. Brandes, Oud-Javaansche Oorkonden. Nagelaten Transscripties (‘S-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1913).
- Soewito Santoso, Ramayana Kakawin, vol. 3 (Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 1980).
- J.J. Meinsma, Babad Tanah Djawi, in Proza. Javaansche Geschiedenis Loopende tot het Jaar 1647 der Javaansche Jaartelling (‘S-Gravenhage: Martinus Nijhoff, 1874).
- Kamajaya, Serat Centhini (Suluk Tambangraras) Latin, jld. I (Yogyakarta: Yayasan Centhini, 1992).
Simak juga video kami di channel Waskita Jawi